Tanggal Posting

January 2012
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Aktifitas


Pasca Revolusi Arab

Tahun Baru Pasca Revolusi Arab, Sulit Tapi Optimis

Kamis, 05 Januari 2012

Oleh: Musthafa Luthfi

PERGANTIAN tahun adalah sunnatullah yang berlangsung secara terus menerus hingga bumi dan seisinya kembali kepada Pewaris sejatinya, Allah SWT sehingga tidak ada yang istimewa apalagi sampai merayakannya dengan berbagai acara luar biasa yang menghabiskan dana yang tergolong besar dan mubazir. Pergantian tahun georgian atau masehi 2011 ke 2012 kali ini didahului sekitar sebulan sebelumnya dengan pergantian tahun hijriyah 1432 ke 1433.

Yang perlu dicatat adalah kejadian yang telah berlangsung untuk kemudian sebagai bahan pemikiran kita dan landasan menentukan keputusan selanjutnya bagi kebaikan setiap individu dan untuk tingkat yang lebih luas bagi kebaikan suatu bangsa dan masyarakat internasional. Pada 1432 H / 2011 sebagian peristiwa telah diprediksi sebelumnya, namun banyak pula peristiwa yang berlangsung tiba-tiba dan mengejutkan untuk ukuran manusia.

Salah satu peristiwa penting dan menonjol pada tahun sebelumnya adalah meletusnya revolusi Arab yang dikenal pula dengan al-Rabei al-Arabi (musim semi) yang telah melewati tahun pertama dan memasuki tahun kedua sejak meletus pada 17 Desember 2010 di Tunisia, salah satu negari kecil Arab di pantai Samudera Atlantis. Tidak ada yang menyangka aksi bakar diri yang dilakukan pemuda Mohammed Bouazizi di kota Sidi Bouazid menginspirasi revolusi musim semi di negeri kecil berpenduduk sekitar 11 juta jiwa itu yang selanjutnya meluas ke sejumlah negara Arab.

Bagi pemuda umur 26 tahun itu, aksi bakar diri itu dianggap lebih baik ketimbang harus menganggur dan tidak mampu menopang kehidupan keluarga besarnya yang sangat tergantung padanya sebagai pedagang buah dan sayur untuk menopang hidup delapan anggota keluarganya dengan penghasilan kurang dari US$150 sebulan. Cita-citanya, kata teman dan keluarganya, adalah mengembangkan usahanya dari pedagang bergerobak menjadi penjual buah dan sayuran dengan kendaraan truk bak terbuka.

Karena bermula dari kesulitan ekonomi yang dialami Bouazizi itulah maka banyak pihak yang memandang bahwa gelombang tuntutan perubahan di sejumlah negara Arab baik yang telah sukses melengserkan penguasa maupun yang masih berjuang merampungkan perubahan lebih disebabkan faktor ekonomi. Bahkan negara-negara Barat secara serempak melihatnya semata-mata dikarenakan faktor ekonomi.

Tidak bisa dipungkiri, faktor ekonomi memang berperan dalam perubahan di sejumlah negara Arab, tapi bukan faktor satu-satunya karena ada faktor lain yang tidak kalah penting bahkan terpenting yakni karaamah (harga diri) bangsa Arab sehingga membangkitkan kembali jiwa qaumiyah (kebangsaan) yang menuntut kedaulatan dan kebebasan dari pengaruh-pengaruh asing. Banyak analis Arab mengingatkan bahwa bangsa Arab saat ini bangkit menuntut kebebasan dari berbagai bentuk pengaruh asing (baca: barat) yang telah menginjak-injak martabat mereka selama ini selaku bangsa yang terpasung kedaulatan mereka.

Memasuki 1433/2012 ini bangsa Arab di kawasan Timur Tengah, mengawalinya dengan perubahan sehingga, hampir tidak mungkin lagi para penguasa baru akan mengorbankan aspirasi rakyat mereka, guna memberikan layanan istimewa bagi kepentingan Israel dan sekutu-sekutunya meskipun dengan ancaman pemotongan bantuan ekonomi. Posisi pemerintah (resmi) hampir dipastikan tidak lagi diambil sekehendak hati penguasa, namun harus bersumber dari aspirasi rakyat yang telah lama merasa menderita dan diinjak-injak harga diri mereka.

Yang terpenting setelah itu adalah bagaimana mengarahkan revolusi tersebut agar sejalan dengan tujuannya apalagi tantangan pasca revolusi tidak kalah pelik dan berat dari tantangan sebelum revolusi meletus. Tantangan dimaksud khususnya yang terkait dengan konspirasi kontra revolusi terutama pasca pemilu yang memunculkan kemenangan apa yang oleh Barat disebut sebagai “Islam Siyasi” (Islam Politik) pasca perubahan di sejumlah dunia Arab. Sebagaimana diketahui parpol-parpol Islam berjaya di tiga negara yang belum lama ini melangsungkan pemilu seperti Tunisia, Maroko dan Mesir.

Parpol-parpol tersebut diprediksi akan berjaya pula nanti di negara-negara Arab lainnya, sementara parpol-parpol yang berhaluan liberal yang dijagokan Barat menuai hasil buruk padahal tokoh-tokoh dari kelompok liberalis disebut-sebut sebagai “pemimpin musim semi Arab”. Tidak dapat dipungkiri, kekalahan kelompok liberalis memunculkan kekhawatiran bahwa dunia Arab pasca revolusi benar-benar berubah yang mengancam kepentingan pihak-pihak tertentu yang selama ini menjadi sekutu strategis rezim-rezim lama.

Konspirasi

Karena itu, tidak berlebihan bila media massa internasional terutama yang dikuasai zionisme menjadikan “Islam Politik“ sebagai fokus pemberitaan pasca revolusi “musim semi“ Arab. Sudah dapat dipastikan tujuan dari menonjolkan isu tersebut adalah untuk menyudutkan yang bisa saja berlanjut kepada konspirasi guna menggagalkan hasil pilihan rakyat lewat pemilu jurdil yang disaksikan para pengamat mancanegara itu.

Suara-suara pesimis pun bermunculan sebelum pembentukan pemerintahan hasil pemilu dengan menyebutkan antara lain solusi Islamis yang ditawarkan parpol-parpol Islam pemenang pemilu hanya sebatas slogan kosong tanpa memiliki program jelas terutama terkait penyelesaian masalah ekonomi. Pada waktu yang sama negara-negara donor Barat beramai-ramai menunda bantuannya atau memberlakukan syarat baru yang sulit diterima.

Israel dan AS beserta sekutu-sekutunya di Barat dipastikan yang paling khawatir atas kemenangan besar parpol-parpol Islam terutama kemenangan Islam politik di Mesir. Kekhawatiran tersebut, bukan hanya karena kekalahan kelompok liberalis yang berhasil mereka tanam selama bebera dekade sebelumnya, akan tetapi lebih disebabkan kekhawatiran mereka akan nasib perjanjian Camp David dan perjanjian-perjanjian “damai“ lainnya.

Meskipun demikian, Barat terutama AS akan menghadapi kesulitan besar juga dalam memposisikan dirinya dengan perkembangan terbaru di kawasan pasca revolusi musim semi itu. Barat harus dapat beradaptasi dengan pemerintahan-pemerintahan kubu Islamis karena tidak akan mampu memboikotnya seperti yang dilakukan terhadap pemerintahan Hamas di Palestina atas instruksi Israel.

Banyak pengamat melihat bahwa kubu Islamis di dunia Arab berhasil menuju tampuk pemerintahan lewat pemilu jurdil dan transparan sehingga perlu diberikan peluang melaksanakan programnya tanpa harus dikenakan sandungan dari dalam dan luar negeri. Pemboikotan dalam bentuk apapun atas pemerintahan baru tersebut sama saja dengan memutar arah jarum jam alias kembali ke pemerintahan autokrasi yang tidak mungkin lagi ditolirir bangsa-bangsa di kawasan.

Bangsa-bangsa kawasan telah mengalami masa penderitaan lebih dari empat dekade dibawah pemerintahan tangan besi dan penindasan. Karena itu, mereka tidak akan menerima bila ada upaya-upaya konspirasi yang ingin memutar balik arah jarum jam dan mereka siap membayar mahal untuk mempertahankan muktasabaat (prestasi-prestasi) dari revolusi musim semi tersebut.

Walaupun dalam jangka pendek mendatang tantangan berat yang akan dihadapi bersifat multi dimensi termasuk kemungkinan munculnya kontra revolusi dukungan Barat yang alergi terhadap kejayaan parpol-parpol Islam, namun situasi pasca revolusi akan lebih baik. Apalagi pemerintahan mendatang adalah hasil pilihan mayoritas mutlak rakyat yang menginginkan pemulihan kembali harga diri bangsa Arab.

Pemerintahan kubu Islamis dipastikan tidak akan lagi tunduk kepada pelecahan zionis Israel dan hegemoni Barat selama ini. Pemerintahan baru tidak akan bersedia lagi menerima pelecahan seperti rezim-rezim yang telah jatuh atau rezim-rezim lainnya yang berada di ujung tanduk.

Sebagai pemerintahan yang baru tentunya masih banyak kelemahan sehingga perlu dilakukan langkah-langkah untuk memperkokohnya. Publik Arab diharapkan juga tidak terlalu membebaninya atas kebijakan-kebijakan yang masih diluar kemampuan pemerintahan tersebut sehingga dalam jangka pendek mendatang bisa saja tetap melanjutkan kesepakatan yang terkait dengan konflik di kawasan guna menghindari konfrontasi.

Yang terpenting kubu pemenang pemilu tidak meninggalkan prinsip dasar mereka yang menyebabkan keterpurukan harga diri selama ini seperti yang dilakukan rezim-rezim sebelumnya. Saat ini telah empat rezim yang berhasil dilengserkan revolusi musim semi yang diharapkan pula sebagai pertanda jatuhnya hegemoni dan sirnanya cengkraman Israel secara bertahap.

Bangsa yang sudah tertancap keberanian melawan kekejaman aparat lewat unjukrasa damai, dipastikan tidak akan takut lagi melakukan cara serupa menghadapi kekejaman tentara pendudukan Israel. Mereka dipastikan tidak akan ragu melakukan cara yang sama guna membebaskan tempat-tempat suci yang dikotori zionisme.

Pergantian tahun kali ini yang didahului oleh revolusi musim semi Arab telah membersitkan secercah harapan dan sikap optimis yang mungkin belum pernah dirasakan pada tahun-tahun sebelumnya selama lebih dari empat dekade terakhir. Sikap optimis ini pun kembali memenuhi hati publik Arab dalam melanjutkan perjuangan memenang isu sentral mereka yang isu Palestina.

Paling menonjol

Diakui maupun tidak, isu Palestina sejatinya adalah tetap sebagai isu paling menonjol di mata publik Arab dan umat Islam sedunia. Karena itu, berbagai upaya untuk menjadikannya sebagai isu nomor dua atau isu sampingan tidak akan diterima publik apapun alasan yang dikampanyekan untuk mengelabui mereka.

“Isu Palestina akan tetap sebagai isu utama setiap tahun tanpa perdebatan. Setiap pergantian tahun maka isu Palestina adalah dasarnya sehingga tidak mungkin dijadikan isu nomor dua atau lebih rendah dari itu,“ papar Zahir Majid, seorang pengamat Arab dalam tulisannya di harian al-Watan, Oman, Selasa (3/1/2012).

Menurut salah satu penulis senior Arab itu dalam artikelnya bertajuk Palestina bintang setiap tahun, ia mengingatkan bahwa masalah Palestina akan tetap sebagai isu utama bangsa Arab meskipun sikap sebagian pemimpin Arab selama ini (yang berusaha mengenyampingkannya) atau sikap sebagian pihak yang berusaha mengalihkan perhatian publik lewat interpretasi-interpretasi (menyesatkan).

Masalah Palestina yang menjadi isu sentral bangsa Arab tidak mungkin terus menerus hanya sebagai slogan kosong tanpa aksi nyata di era perubahan yang melanda dunia Arab dewasa ini. Bahkan dapat dikatakan bahwa salah satu indikasi keberhasilan revolusi Arab adalah kembalinya masalah Palestina sebagai isu nomor wahid yang diperjuangkan secara nyata dan serius.

Hampir dipastikan juga bahwa negara-negara Arab yang ditengarai masih menjalin persekutuan erat dengan AS tidak akan bisa lagi selalu mengiyakan negeri Paman Sam itu. Mantan PM Mesir, Essham Sharaf dan Sekjen Liga Arab, Nabil Al-Arabi, sejak dini mengingatkan bahwa prioritas kebijakan negaranya menyangkut Palestina ke depan adalah memperjuangkan tercapainya penyelesaian damai dan berdirinya negara Palestina merdeka bukan mengupayakan perundingan ke perundingan tanpa penyelesain.

Perundingan tanpa unjung penyelesaian dipastikan akan ditentang keras bangsa Arab sehingga rejim Arab mendatang tidak bisa lagi menjadikan perundingan sebagai sarana membeli hati publik seperti kejadian pada berbagai perundingan sebelumnya. Meskipun akhir-akhir ini banyak masukan ditujukan kepada parpol-parpol Islam pemenang pemilu di Arab agar menomorduakan dulu isu Palestina, namun kemungkinan besar masukan tersebut tidak akan digubris.

Dalam suasana orde perubahan dunia Arab saat ini yang diwarnai pula dengan prestasi parpol-parpol Islam, saya kira harapan agar dunia Arab kembali berperan memperjuangkan isu Palestina dan bukan sekedar pengekor keputusan Barat bukanlah harapan yang sulit dicapai. Apalagi Mesir sebagai negara Arab terbesar telah muncul kembali sebagai pemimpin Arab pendukung kuat isu Palestina.

Memang tantangan yang akan dihadapi sangat berat, namun azam (tekad) dipastikan lebih kuat untuk menghadapinya sebab parpol-parpol Islamis dimaksud mendapat dukungan kuat rakyat yang tidak sudi lagi melihat arah jarum jam berputar ke belakang. Karenanya tidak berlebihan bila dikatakan, tahun baru kali ini disambut optimis publik Arab meskipun tantangan berat di hadapan mereka sudah nampak jelas.*/Sana`a, 9 Safar 1433 H

Penulis kolumnis hidayatullah.com, kini tinggal di Yaman


Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>